bisnis konveksi kaos jaket tidak ada matinya

“Terima pesanan kaos, baju seragam, kemeja, setelan training baik dalam jumlah besar atau kecil”. Demikian bunyi salah satu iklan baris di sebuah harian ibukota edisi online. Tawaran sejenis tidak hanya satu, melainkan ada beberapa.

Bisnis konveksi terus menjadi tren di kalangan pebisnisnya. Permintaan akan produk konveksi datang silih berganti dalam jumlah partai kecil hingga besar. Order dari komunitas-komunitas yang ingin menyelenggarakan acara tertentu, pakaian seragam dari sekolah-sekolah di setiap tahun ajaran baru, seragam karyawan dari perusahaan-perusahaan, dan permintaan berbagai macam konveksi untuk kepentingan pemilihan umum dan sebagainya.

Setidaknya ada beberapa hal harus dimiliki agar dapat mengembangkan bisnis ini dengan baik. Pertama adalah ketekunan dari pebisnis. Pengalaman sebuah usaha keluarga yang sekarang diberi nama PT Giordano Promandiri, pada saat berdiri hanyalah sebuah toko. Namun karena melihat peluang yang besar, usaha ini akhirnya memproduksi sendiri permintaan pelanggan dalam bentuk barang siap pakai sesuai keinginan pelanggan, dimulai pada tahun 2000. Produk ditawarkan beragam, mulai dari seragam pabrik atau kantor, t-shirt, jaket, topi, kaos hingga permintaan barang yang sudah disablon.

Tentunya bisnis tersebut tak langsung menjadi besar seperti sekarang. Seperti diutarakan Ruben Liando yang menjalankan program marketing, pada awalnya usaha yang saat ini berlokasi di Jelambar, Jakarta Barat tersebut juga dimulai dari bawah. “Hanya dengan ketekunan dan membangun relasi yang ada bisnis Kami jadi berkembang,” ujar pria yang mengakui telah mendapatkan penuh order untuk acara 17 Agustus hingga lebaran dari perusahaan-perusahaan besar di tahun 2007 ini.

Faktor selanjutnya yang menentukan pengembangan usaha adalah masalah permodalan. Bamboo Konveksi, sebuah bisnis konveksi kecil hasil kerjasama Daud (di bagian konveksi) dan Andri (di bagian sablon) merasa belum terlalu beruntung mendapatkan order-order dalam partai besar.

Penghalangnya tak lain adalah masalah permodalan. Kami belum bisa menerima order dalam jumlah besar. “Seperti pilkada Jakarta kali ini misalnya. Kami belum bisa bersaing karena belum bisa mencukupi permintaan dalam jumlah besar,” ujar Andri. Untuk sementara Bamboo masih mengandalkan bahan dari supplier untuk dijahit dan kemudian disablon.

Usaha yang berdiri di akhir 2006 ini juga belum berani mengajukan kredit ke lembaga keuangan seperti bank misalnya, dengan alasan usaha belum stabil. Kendati demikian meski menerima order-orden dalam partai kecil Bamboo Konveksi menurut Andri masih bisa bertahan.

Sementara pada saat-saat pemilihan umum juga tak sedikit pebisnisdi bidang ini yang kebagian order. Para tim suksesi memerlukan sarana berkampanye, baik seperti kaos, atribut, topi dan sebagainya dalam jumlah yang besar. Apalagi jika pemilihan umum yang akan diselenggarakan secara nasional, dari satu tim sukses bisa datang permintaan 10.000 hingga 50.000 kaos dalam sekali order. Belum lagi atribut-atribut lain seperti topi, selempang kepala dan sebagainya. Jika siap mengambil posisi, keberuntungan akan menanti pebisnis.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *